You are currently viewing CEO Gemilang, Salva: HUT ke-81 RI harus Jadi Motivasi Budaya Kerja Profesional

CEO Gemilang, Salva: HUT ke-81 RI harus Jadi Motivasi Budaya Kerja Profesional

GEMILANG |  Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 tidak hanya menjadi momentum seremonial, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menerjemahkan semangat kemerdekaan ke dalam kehidupan profesional dan dunia usaha.

Pesan tersebut menjadi salah satu pokok utama dalam amanat Pembina Upacara HUT ke-81 RI yang disampaikan Salva Yurivan Saragih, CEO Gemilang, di hadapan karyawan Gemilang Integrated Facility Service, Pastiklola, Basmi Rayap, Gemilang Virtual Office, Gesit, Gemilang Academy, serta peserta upacara lainnya.

Dalam amanatnya, Salva mengajak seluruh peserta tidak memandang kemerdekaan sebatas peristiwa sejarah. Menurutnya, nilai kemerdekaan harus diwujudkan melalui sikap mandiri, profesional, disiplin, adaptif, dan bertanggung jawab dalam pekerjaan sehari-hari.

Ia juga mengaitkan semangat HUT ke-81 RI dengan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Tiga nilai tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam konteks perusahaan dan menjadi pedoman bagi karyawan dalam bekerja, melayani pelanggan, memimpin tim, serta membangun organisasi.

Makna “Berdaulat” dalam Dunia Kerja

Salva menjelaskan bahwa kedaulatan tidak hanya menjadi konsep dalam kehidupan bernegara. Dalam konteks perusahaan, kedaulatan dapat diwujudkan melalui kemampuan organisasi untuk berdiri di atas sistem dan kompetensi internal yang kuat.

Salah satu fondasinya adalah Standard Operating Procedure (SOP) yang jelas di setiap lini pekerjaan. Hal tersebut menjadi penting bagi perusahaan yang bergerak di bidang jasa fasilitas dengan berbagai layanan, mulai dari keamanan, kebersihan, pengendalian hama, waste management, pengelolaan parkir, virtual office, hingga administrasi dan pelayanan pelanggan.

Menurut amanat tersebut, kualitas layanan seharusnya tidak bergantung pada satu individu. Kualitas perlu dibangun melalui sistem yang kuat, tim yang kompeten, pelatihan berkelanjutan, serta budaya kerja yang disiplin.

Dengan demikian, kemandirian perusahaan bukan berarti bekerja tanpa bantuan pihak lain, melainkan memiliki fondasi internal yang membuat organisasi mampu menjaga kualitas meskipun menghadapi perubahan maupun tantangan.

“Jika setiap anggota tim memahami SOP, memiliki kemampuan yang baik, dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, maka perusahaan akan mandiri, profesional, dan mampu bertahan dalam kondisi apa pun,” demikian pesan dalam amanat tersebut.

Keadilan Bukan Hanya tentang Pelanggan

Salva menyampaikan bahwa keadilan mencakup kesempatan untuk bekerja, berkembang, memperoleh penghargaan, serta mendapatkan perlakuan yang layak. Prinsip tersebut juga relevan diterapkan dalam hubungan antara perusahaan, pelanggan, dan karyawan.

Perusahaan memang memiliki kewajiban memberikan pelayanan profesional kepada pelanggan. Namun, kepuasan pelanggan tidak boleh dipisahkan dari perhatian terhadap karyawan sebagai pihak yang menjalankan pelayanan tersebut.

Karyawan yang bekerja di lapangan, seperti petugas cleaning service, keamanan, pengendalian hama, pengelolaan parkir maupun tim administrasi, memiliki kontribusi langsung terhadap keberlangsungan operasional perusahaan dan pelanggan.

Karena itu, keadilan dalam organisasi juga berarti memastikan karyawan memahami target, SOP, tanggung jawab, hak dan kewajibannya. Perusahaan pada saat yang sama perlu menyediakan pembinaan, kesempatan berkembang, serta penghargaan atas prestasi dan profesionalisme.

Pesan ini memberikan pelajaran penting bagi dunia kerja: pelayanan yang baik tidak lahir hanya dari tuntutan terhadap karyawan, tetapi juga dari lingkungan kerja yang memberikan ruang bagi karyawan untuk berkembang.

Kemakmuran Dimulai dari Pertumbuhan Bersama

Dalam amanat tersebut, kemakmuran dipahami sebagai kondisi ketika masyarakat dapat hidup layak, sejahtera, berkecukupan, dan memiliki kesempatan untuk berkembang. Dalam konteks perusahaan, konsep tersebut diterjemahkan sebagai pertumbuhan yang berkelanjutan.

Salva menekankan bahwa perusahaan tidak dapat tumbuh sendirian ketika pelanggan atau klien justru menghadapi stagnasi.

Peran perusahaan jasa fasilitas, misalnya, bukan sekadar menjalankan pekerjaan berdasarkan kontrak. Layanan yang diberikan harus mampu membantu klien menjalankan bisnis secara lebih aman, nyaman, tertib, dan efisien.

Ketika gedung terbebas dari gangguan hama, lingkungan kerja terjaga kebersihannya, keamanan lebih baik, atau pengelolaan parkir menjadi lebih tertib, dampaknya dapat berlanjut pada produktivitas dan kenyamanan pelanggan.

Pertumbuhan klien kemudian dapat membuka peluang kerja sama yang lebih luas. Pada akhirnya, pertumbuhan tersebut juga berpotensi memberikan manfaat kepada karyawan melalui stabilitas pekerjaan, peningkatan kompetensi, kesempatan belajar, dan kesejahteraan yang lebih baik.

Tantangan 2026: AI hingga Perubahan Perilaku Pelanggan

Tahun 2026 disebut membawa sejumlah dinamika, antara lain perkembangan Artificial Intelligence (AI), perubahan perilaku pelanggan, persaingan usaha yang semakin ketat, ketidakpastian ekonomi global, serta tuntutan terhadap keberlanjutan atau sustainability.

Perubahan tersebut dapat menjadi ancaman bagi organisasi yang bertahan dengan cara kerja lama. Sebaliknya, perubahan dapat menjadi peluang apabila perusahaan memiliki kemauan untuk belajar, berinovasi, memperbaiki proses, dan meningkatkan kualitas pelayanan. Dalam perspektif tersebut, makna kemerdekaan juga mengalami perluasan.

Kemerdekaan di era modern bukan hanya dimaknai sebagai bebas dari penjajahan, tetapi juga keberanian untuk berubah, kebebasan berinovasi, kemandirian menciptakan solusi, serta kemampuan mengendalikan masa depan organisasi.

Dibutuhkan “Mental Pejuang” di Era Perubahan

Salva menekankan bahwa perusahaan tidak cukup hanya memiliki pekerja keras. Organisasi membutuhkan insan dengan mental pejuang, yaitu mereka yang mau terus belajar, tidak mudah menyerah, berani mengambil tanggung jawab, dan terus mencari cara untuk meningkatkan kualitas pekerjaan.

Pesan tersebut menjadi relevan di tengah perubahan dunia kerja. Kemampuan teknis saja tidak selalu cukup. Karyawan juga perlu memiliki kemampuan beradaptasi dan kemauan untuk memperbarui kompetensi.

Terlebih, perkembangan teknologi seperti AI dapat mengubah cara berbagai pekerjaan dilakukan. Karena itu, kemampuan belajar menjadi salah satu modal penting agar tenaga kerja tidak hanya mampu mengikuti perubahan, tetapi juga dapat mengambil manfaat dari perubahan tersebut.

Nilai HEBAT Harus Terlihat dalam Tindakan

Dalam kesempatan tersebut, Salva juga mengajak seluruh jajaran untuk membumikan nilai perusahaan HEBAT, yang merupakan akronim dari Handal, Sinergi, Berintegritas, Kepuasan Pelanggan, dan Adaptif.

Menurutnya, nilai perusahaan tidak cukup hanya ditampilkan di dinding kantor, dimasukkan dalam presentasi, atau dihafalkan ketika briefing. “Nilai tersebut harus terlihat dalam tindakan sehari-hari,” ujarnya.

Contohnya sederhana: datang tepat waktu, membuat laporan dengan benar, menjaga komunikasi dengan klien, membantu rekan kerja, mematuhi SOP, merawat peralatan, menjaga kebersihan, hingga berani mengambil tanggung jawab atas pekerjaan.

Dengan kata lain, budaya perusahaan dibangun bukan hanya melalui slogan, melainkan melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten oleh seluruh anggota organisasi.

Kemerdekaan sebagai Momentum Evaluasi

Pada bagian akhir amanat, Salva mengajak peserta upacara menjadikan HUT ke-81 RI sebagai momentum evaluasi diri, bukan sekadar kegiatan tahunan.

Pertanyaan yang perlu diajukan setiap individu adalah apakah pekerjaan yang dilakukan selama ini telah memberikan manfaat bagi klien, rekan kerja, keluarga, dan bangsa Indonesia.

Pesan tersebut memberikan perspektif bahwa pekerjaan sehari-hari memiliki kontribusi yang lebih luas daripada sekadar menyelesaikan tugas.

Pekerjaan yang dilakukan dengan benar dipandang sebagai bentuk pengabdian. Pelayanan yang diberikan kepada pelanggan menjadi bagian dari kontribusi terhadap aktivitas ekonomi. Sementara pembinaan dan peningkatan kesejahteraan karyawan menjadi bagian dari upaya membangun sumber daya manusia Indonesia.

Menuju Aksi Nyata

Peringatan HUT ke-81 RI pada akhirnya membawa pesan bahwa kemerdekaan harus diisi dengan karya.

Dalam konteks dunia kerja, karya tersebut dapat dimulai dari hal-hal yang paling dekat: meningkatkan kompetensi, bekerja sesuai SOP, menjaga integritas, memperkuat kolaborasi, memberikan pelayanan terbaik, serta berani beradaptasi terhadap perubahan.

Salva optimistis penerapan nilai Handal, Sinergi, Berintegritas, berorientasi pada Kepuasan Pelanggan, dan Adaptif akan membantu perusahaan menghadapi tantangan 2026 sekaligus berkembang menjadi perusahaan jasa fasilitas yang semakin profesional dan dipercaya.

Pesan tersebut sekaligus memperluas makna perayaan kemerdekaan. Merah Putih yang dikibarkan dalam upacara bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga pengingat bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan melalui kontribusi nyata.

“Teruslah melangkah, teruslah belajar. Teruslah bersinergi. Mari kita isi kemerdekaan ini dengan karya-karya terbaik,” menjadi penutup amanat Salva Yurivan Saragih dalam peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia.[]

 

Leave a Reply